Abū Rayḥān Muḥammad ibn Aḥmad Bīrūnī

Abu Raihan Al-Biruni (Biruni, Al Biruni) merupakan matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, obat-obatan.

Abu Raihan Al-Biruni dilahirkan di Khawarazmi, Turkmenistan atau Khiva di kawasan Danau Aral di Asia Tengah yang pada masa itu terletak dalam kekaisaran Persia. Dia belajar matematika dan pengkajian bintang dari Abu Nashr Mansur. Abu Raihan Al-Biruni merupakan teman filsuf dan ahli obat-obatan Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina/Ibnu Sina.

Biography

Ia dilahirkan di Khwarazm, bagian dari Kerajaan Samanid (sekarang adalah kota Khiva – di sekitar wilayah aliran Sungai Oxus, Khwarizm,Uzbekistan). Ia belajar matematika dan ilmu perbintangan di bawah bimbingan Abu Nasr Mansur.

Ia adalah seorang rekan kerja dari ahli filsafat dan dokter Abu- Ali- Ibn Si-Na- ( Avicenna), sejarawan, ahli filsafat dan Ethicist Ibn Miskawaih, di sebuah universitas dan pusat ilmu pengetahuan yang dibentuk oleh putera Abu al-Abbas Ma’Mun Khawarazmshah. Ia juga bepergian ke Asia Selatan atau Asia Pusat (Afghanistan) dengan Mahmud dari Ghazni ( putra dan pengganti Masud yang merupakan pelindung utama nya), dan menemani dia ke India ( di tahun 1030), di sana ia belajar Bahasa Orang India, dan belajar filosofi dan agama orang-orang nya . Di sana, ia juga menulis Ta’Rikh Al-Hind (” Riwayat India”), yang berisi uraian tentang agama Hindu, sains dan adat istiadat India di Abad Pertengahan. Biruni menulis bukunya dengan bahasa Arab, meskipun demikian ia mengenal tidak kurang dari empat bahasa lainnya : Yunani, Bahasa Sansekerta, Syriac, dan Berber.

Sebagai orang  Timur Tengah pertengahan, Al-Biruni tumbuh besar tidak seperti  lazimnya orang dari lingkungannya. Dari arsip yang ditemukan menguraikan asalnya dari Tajik, atau Iran, walaupun ia secara kultur dan bahasa dari Persia. Al-Biruni telah dilahirkan di Birun, suatu bagian pinggir kota Kath, di dalam daerah Khwariz, sekarang dikelnal dengan Karakalpakistan. Dia lahir dengan nama Abu ar Raihani Muhammad ibnu Ahmad al Biruni. Nama “ Al-Biruni” menurut ahli mengacu pada Birun, tempat kelahirannya. Ia  datang dari suatu keluarga biasa asal Tajik , ia bukanlah bagian dari suatu garis keturunan terkenal atau makmur. Al-Biruni menghabiskan 25 tahun  pertama hidupnya di tanah kelahirannya, sepanjang selatan Laut Aral .Tidak ada bukti perkawinan atau anak-anak telah ditemukan dari data Al-Biruni. Al-Biruni adalah seorang laki-laki yang nampaknya mempersembahkan hidupnya  kepada ilmu pengetahuan.

Karya

Al-Biruni menulis banyak buku dalam bahasa Persia (bahasa ibunya) dan bahasa Arab.

Berikut karya-karya Al-Biruni ialah:

  • Ketika berusia 17 tahun, dia meneliti garis lintang bagi Kath, Khwarazm, dengan menggunakan altitude maksima matahari.
  • Ketika berusia 22, dia menulis beberapa hasil kerja ringkas, termasuk kajian proyeksi peta, “Kartografi“, yang termasuk metodologi untuk membuat proyeksi belahan bumi pada bidang datar.
  • Ketika berusia 27, dia telah menulis buku berjudul “Kronologi” yang merujuk kepada hasil kerja lain yang dihasilkan oleh beliau (sekarang tiada lagi) termasuk sebuah buku tentang astrolab, sebuah buku tentang sistem desimal, 4 buku tentang pengkajian bintang, dan 2 buku tentang sejarah.
  • Beliau membuat penelitian radius Bumi kepada 6.339,6 kilometer (hasil ini diulang di Barat pada abad ke 16).

Sebelum menulis “Ta’Rikh Al-Hind “, Al Biruni telah menulis buku khusus tentang sejarah bangsa-bangsa zaman purba, berjudul “Al Ardhul Baqiyah anil Qurnil Khaliyah“. Bukunya telah diterjemahkan ke bahasa Inggris sejak abad ke-19, menjadi “Chronology of Ancient Nations” (cetakan terbaru tahun 1993).

Ia juga menulis buku astronomi yang dipersembahkan bagi Sultan Mas’ud al Gaznawi, berjudul “Al Qanunul Mas’udi fil Hai’ah wan Nujum” (1030), berisi laporan tentang seluk-beluk ilmu perbintangan. Buku lainnya disusun dalam bentuk tanya jawab mengenai ilmu ukur, matematika, astronomi dan struktur ruang angkasa, berjudul “At Tafhim fi Awa’il Sina’atit Tanjim“.

Pendapat Al Biruni dalam buku tersebut benar-benar baru dan orisinal menurut ukuran zamannya, sebab telah berhasil menyelesaikan masalah-masalah yang masih diperdebatkan para ilmuwan. Terutama mengenai perputaran bumi (rotasi), penetapan garis lintang (latitude), garis bujur (longitude) serta hipotesa-hipotesa tentang alam semesta yang bersifat relatif. Besar kemungkinan, teori relativitas Einstein diilhami hipotesa-hipotesa Al Biruni.

Ahli batu perhiasan

Sebagai ilmuwan yang menguasai geologi, Al Biruni menulis berjilid-jilid buku tentang batu-batuan dan logam mulia. Ia menganalisis delapan belas jenis permata dari sudut pandang ekonomi, keindahan (estetika) dan moral (etika), dalam buku berjudul “Kitabul Jamahir Ma’rifatul Jawahir“.

Menurut Syed Habibul Haq Nadvi, penulis buku “The Dynamics of Islam” (1982), dengan bukunya itu, Al Biruni menampakkan tiga dimensi kepribadiannya. Baik sebagai guru etika dan filsafat moral, sebagai ahli mineralogi dan batu mulia, serta sebagai penilai batu mulia yang mampu menghubungkan aspek manfaat, nilai ekonomi, dan peranan mata uang yang tak terpisahkan dari peran batu mulia.

Hasil karya Al Biruni mencapai 180 judul, meliputi aneka masalah iptek dan humaniora. Tapi hanya sebagian yang tercatat dan terkumpulkan dalam bentuk manuskrip asli.

Selain buku-buku yang sudah disebut di atas, adalah buku-buku berjudul “Kitabusy Syahdalah (tentang farmakologi, pengobatan), “Tahdid Nihayatul Amakin” (Penentuan Kordinat Kota-Kota), “Kitabul Kusuf wal Khusuf ala Khayalul Hunud” (Pandangan orang India tentang gerhana matahari dan bulan), “Maqalid Ilmul Hay’ah” (Kunci ilmu astronomi), dan sebagainya.

Karena berkiprah di Afganistan, India, Cina, dan sekitarnya, Al Biruni dianggap sebagai pembangun ilmu “Mazhab Timur”, yang menjadi matarantai tak terpisahkan dari ilmu “Mazhab Barat” yang berpusat di Baghdad.

Menurut Syed Habibul Haq Nadvi, konsep utama filsafat moral Al Biruni terkandung dalam teorinya tentang al Muruwwa (kebajikan) dan al Futuwwa (keutamaan). Keduanya saling terkait. Kedua unsur penting ini, terpancar dari anugerah Allah SWT kepada manusia lewat peran mineral emas dan perak.

Kedua mineral berharga itu, diciptakan Allah SWT untuk melengkapi dan memudahkan kehidupan ekonomi dan sosial manusia. Seseorang yang menumpuk dan menimbun emas perak, sama dengan mengorbankan kepentingan banyak orang. Emas dan perak harus digunakan untuk kesejahteraan manusia dan negara.

Hasil karya Al-Biruni total terdiri dari 146 buah buku.

Sumbangan Sang Ilmuwan

* Astronomi

”Dia telah menulis risalah tentang astrolabe serta memformulasi tabel astronomi untuk Sultan Ma’sud,”papar Will Durant tentang kontribusi Al-Biruni dalam bidang astronomi. Selain itu, Al-Biruni juga telah berjasa menuliskan risalah tentang planisphere dan armillary sphere. Al-Biruni juga menegaskan bahwa bumi itu itu berbentuk bulat.
Al-Biruni tercatat sebagai astronom yang melakukan percobaan yang berhubungan dengan penomena astronomi. Dia menduga bahwa Galaksi Milky Way (Bima Sakti) sebagai kupulan sejumlah bintang. Pada 1031 M, dia merampungkan ensiklopedia astronomi yang sangat panjang berjudul Kitab Al-Qanun Al Mas’udi.

*Astrologi
Dia merupakan ilmuwan yang pertama kali membedakan istilah astronomi dengan astrologi. Hal itu dilakukannya pada abad ke-11 M. Dia juga menghasilkan beberapa karya yang penting dalam bidang astrologi.

*Ilmu Bumi
Al-Biruni juga menghasilkan sejumlah sumbangan bagi pengembangan Ilmu Bumi. Atas perannya itulah dia dinobatkan sebagai ‘Bapak Geodesi’. Dia juga memberi kontribusi signifikan dalam kartografi, geografi, geologi, serta mineralogi.

*Kartografi
Kartografi adalah ilmu tentang membuat peta atau globe. Pada usia 22 tahun, Al-Biruni telah menulis karya penting dalam kartografi, yakni sebuah studi tentang proyeksi pembuatan peta.

* Geodesi dan Geografi
Pada usia 17 tahun, Al-Biruni sudah mampu menghitung garis lintang Kath Khawarzmi dengan menggunakan ketinggian matahari. ”Kontribusi penting dalam geodesi dan geografi telah dibuat disumbangkan Al-Biruni. Dia telah memperkenalkan teknik mengukur bumi dan jaraknya menggunakan triangulasi,” papar John J O’Connor dan Edmund F Robertson dalam MacTutor History of Mathematics.

* Geologi
Al-Biruni juga telah menghasilkan karya dalam bidang geologi. Salah satunya, dia menulis tentang geologi India.

* Mineralogi
Dalam kitabnya berjudul Kitab al-Jawahir atau Book of Precious Stones, Al-Biruni menjelaskan beragam mineral. Dia mengklasifikasi setiap mineral berdasarkan warna, bau, kekerasan, kepadatan, serta beratnya.

* Metode Sains
Al-Biruni juga berperan dalam memperkenalkan metode saintifik dalam setiap bidang yang dipelajarinya. Salah satu contohnya, dalam Kitab al-Jamahir dia tergolong ilmuwan yang sangat eksperimental.

* Optik
Dalam bidang optik, Al-Biruni termasuk ilmuwan yang pertama bersama Ibnu Al-Haitham yang mengkaji dan mempelajari ilmu optik. Dialah yang pertama menemukan bahwa kecepatan cahaya lebih cepat dari kecepatan suara.

* Antropologi
Dalam ilmu sosial, Biruni didapuk sebagai antropolog pertama di dunia. Ia menulis secara detail studi komparatif terkait antropologi manusia, agama, dan budaya di Timur Tengah, Mediterania, serta Asia Selatan. Dia dipuji sejumlah ilmuwan karena telah mengembangkan antropologi Islam. Dia juga mengembangkan metodelogi yang canggih dalam studi antropologi.

* Psikologi Eksperimental
Al Biruni tercatat sebagai pelopor psikologi eksperimental lewat penemuan konsep reaksi waktu.

* Sejarah
Pada usia 27 tahun, dia menulis buku sejarah yang diberi judul Chronology. Sayangnya buku itu kini telah hilang. Dalam kitab yang ditulisnya Kitab fi Tahqiq ma li’l-Hind atau Penelitian tentang India, Al-Biruni telah membedakan antara menode saintifik dengan metode historis.

* Indologi
Dia adalah ilmuwan pertama yang mengkaji secara khusus tentang India hingga melahirkan indologi atau studi tentang India.

*Matematika

Sumbangannya pada bidang matematika yakni:

Akhir hidup

Al-Biruni wafat di usia 75 tahun tepatnya pada 13 Desember 1048 M di kota Ghazna, Afghanistan.

Untuk tetap mengenang jasanya, para astronom mengabadikan nama Al-Biruni di kawah bulan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s